Informasi Umum Tentang Dieng – Sejarah Candi dan Pariwisata Dieng

Informasi Umum Tentang Dieng - Sejarah Candi dan Pariwisata Dieng

Halaman informasi umum tentang Dieng ini mengulas mulai dari sejarah candi dan pariwisata.

Dieng merupakan sebuah dataran tinggi yang terletak di Jawa Tengah, yaitu berada di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Dieng sendiri menyimpan berbagai candi-candi dan tempat wisata alam yang kerap dikunjungi wisatawan.

Sejarah Candi Dieng

Candi Dieng merupakan objek wisata sejarah di Dataran Tinggi Dieng berupa kumpulan candi-candi peninggalan Agama Siwa (Hindu) tertua di pulau Jawa yang berasal dari kerajaan Kalingga pada masa dinasti Sanjaya.

Candi Dieng diperkirakan dibangun pada abad ke-8 dan ke-9. Hal itu terbukti dalam bangunan candi dan prasasti yang ditemukan terdapat angka (tahun) saka 713 atau 809 Masehi.

Keberadaan candi ini merupakan saksi bisu berkembangnya agama Hindu yang telah masuk dan berkembang di Nusantara pada masa lalu.

Diperkirakan terdapat 400 candi yang terbangun, namun yang masih utuh hanya 8 candi saja. Karena keterbatasan penemuan prasasti dan bukti sejarah lainnya, hingga kini nama candi-candi di Dieng belum diketahui pasti dan masih menjadi misteri.

Sehingga, masyarakat lokal memberi nama candi dengan penamaan tokoh pewayangan terkenal seperti Arjuna, Gatutkaca, dan Bima.

Seorang tentara Britania dari Inggris bernama H.C Cornelius mengunjungi kompleks percandian Dieng pada tahun 1816. Saat itu, kawasan tersebut terendam air dan masih berupa danau, dan ada candi-candinya yang tenggelam.

Ketika tahun 1856, J. Van Kinsbergen seorang warga Belanda memimpin proses pengeringan dan pembersihan kawasan tersebut.

Setelah air dikeluarkan dari kawasan Candi, ia membuat gambar candi-candi Dieng. Kemudian kawasan candi Dieng hingga kini dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Banjarnegara.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari lima candi yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Skrikandi yang berlokasi dalam satu bidang tanah dan berdekatan di tengah kompleks Candi Dieng.

Kompleks ini menjadi kompleks Candi terluas di Dataran Tinggi Dieng dengan luas tanah sekitar 1 hektar. Kelompok candi Arjuna juga memiliki bangunan candi yang paling terlihat utuh dibandingkan dengan candi-candi Dieng di kompleks yang lain.

Pada pemanfaatannya, komplek Candi Arjuna telah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan event tahunan bertajuk budaya yang dikenal dengan Dieng Culture Festival (DCF) sejak tahun 2010.

Event ini merupakan acara budaya yang dikemas dengan sedemikian rupa dengan menggabungkkan konsep musik, seni, alam, dan lain-lain. Selain itu, hingga kini kompleks Candi Arjuna juga sering digunakan oleh umat Hindu dari berbagai daerah seperti Bali sebagai tempat pelaksanaan Galungan.

Komplek Candi Arjuna berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Untuk menjangkau komplek Candi Arjuna sangat mudah, karena lokasinya yang berada di tengah kawasan Dieng. Selengkapnya baca: Cara menuju Dieng.

Pada pertigaan Dieng, pengunjung hanya perlu mengambil jalur kanan dan berjalan kaki hingga Pendopo Soeharto Whitlem yang berada di area parkir komplek Candi Arjuna.

Cari penginapan dekat candi Dieng? Ketahui daftar Homestay Dieng.

Nantinya, wisatawan akan menemukan tiket masuk komplek Candi Arjuna yang akan membawa langkah kakinya menuju jalan setapak di antara pohon cemara, bunga terompet, dan bunga hortensia.

Tiket Candi Arjuna

Jenis WisatawanWeekdayWeekend
DomestikRp. 15.000Rp. 15.000
MancanegaraRp. 30.000Rp. 30.000

Di ujung selatan Candi Arjuna berdiri sebagai candi yang akan tertangkap mata kita pertama kali karena lokasinya berada di urutan pertama dari pintu masuk. Candi Arjuna memiliki bentuk kubus dengan luas dasar 4 meter persegi dan tubuh candi yang berdiri di atas batur setinggi satu meter.

Pada alas Candi Arjuna terdapat tangga menuju pintu masuk. Di bagian depan pintu Candi Arjuna dilengkapi dengan gerbang yang sedikit menjorok keluar, sedangkan di atas pintu Candi Arjuna tedapat sebuah pahatan Kalamakara yaitu sebuah pahatan yang menyerupai raksasa dengan taring di mulutnya.

Orang Jawa biasa menyebutnya dengan istilah buto. Masuk ke dalam candi, terdapat sebuah bilik sebagai tempat yang digunakan untuk meletakkan berbagai jenis sesajen.

Terdapat pula yoni dan digunakan sebagai rempat menampung air hujan yang jatuh dari atap candi. Berdasarkan relief serta pahatan-pahatan yang terukir, para ahli mengatakan Candi Arjuna digunakan dibangun sebagai tempat menyembah Dewa Siwa.

Candi Srikandi

Candi Srikandi letaknya persis di sebelah utara Candi Arjuna. Candi ini berbentuk kubus dengan ukuran 3,8 m x 3,8 m yang berdiri di atas batur setinggi 50 cm.

Pada dinding Candi Srikandi terdapat tiga pahatan relief dewa-dewa umat Hindu (Trimukti) yaitu Dewa Wisnu pada dinding sebelah kanan, Dewa Brahma pada dinding sebelah kiri, dan Dewa Siwa pada bagian belakang candi. Sehingga, candi ini dibangun sebagai tempat menyembah ketiga dewa Hindu tersebut.

Candi Srikandi memiliki tangga berukuran tidak terlalu tinggi menuju pintu masuk. Pintu candi menjorok ke depan dan menghadap ke barat. Atap dari Candi Srikandi sudah tidak lagi terlihat utuh karena hancur.

Candi Sembrada

Di sebelah utara Candi Srikandi, terdapat candi Sembadra yang juga dibangun sebagai tempat melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa.

Tubuh Candi Sembadra berdiri di atas batur setinggi 50 cm dengan bentuk persegi berukuran 3,2 m x 3, yang bagian depan dan sampingnya menjorok keluar.

Candi Sembadra sepintas terlihat seperti rumah yang bertingkat, karena atapnya berbentuk serupa dengan tubuhnya.

Candi Puntadewa

Di ujung paling utara dari deretan komplek Candi Arjuna, terdapat Candi Puntadewa dengan ukuran 4,44 m x 4,44 m yang berdiri di atas batur setinggi 2,5 m. Candi Puntadewa merupakan Candi yang paling tinggi di antara candi lainnya di komplek ini.

Dalam Candi Puntadewa terdapat ruang kosong yang digunakan sebagai tempat untuk menyembah Dewa Siwa.

Candi Semar

Candi Semar letaknya tidak berderet dengan candi lainnya, melainkan persis di depan Candi Arjuna menghadap ke arah timur. Di atas batur setinggi 50 cm, Candi Semar berdiri dengan bentuk bersegi panjang berukuran 3,5 m x 7 m.

Di dalam Candi Semar hanya sebuah ruangan kecil kosong yang dihiasi jendela pada dinding-dindingnya. Candi ini hanyalah sebuah perwara atau candi pelengkap yang dibangun sebagai tempat Umat Hindu berkumpul sebelum masuk ke candi utama untuk melakukan sembahyang. Bagian atap Candi Semar sudah hancur dan tidak lagi terlihat utuh.

Candi Gatotkaca

Candi Gatotkaca yang terdiri dari 7 candi yaitu Candi Gatotkaca, Candi Setyaki, Candi Petruk, Candi Antareja, Candi Gareng, Candi Nakula, dan Candi Sadewa.

Dari ke-7 candi tersebut, hanya Candi Gatotkaca dan Candi Setyaki yang bentuk bangunannya masih terlihat paling utuh karena telah mengalami pemugaran.

Candi Gatotkaca terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Tepatnya di seberang museum Kalisa atau 200 meter sebelah barat komplek Candi Arjuna.

Untuk menjangkau komplek Candi Gatotkaca wisatawan juga bisa menjangkau melalui arah objek wisata Telaga Warna dan Kawah Sikidang melewati jalan lingkar Dieng.

Untuk memasuki komplek Candi Gatotkaca pengunjung belum dikenakan tarif untuk sementara waktu karena tidak ada tiket khusus candi ini namun ada biaya parkir kendaraan.

Candi Gatotkaca

Candi Gatotkaca berdiri di atas batur setinggi 1 meter berbentuk persegi dengan ukuran 4,5 m x 4,5 m. Candi ini telah mengalami pemugaran. Candi Gatotkaca menghadap ke barat dan memiliki sebuah tangga kecil menuju pintu masuk utama.

Bangunan Candi Gatotkaca seperti bangunan bertingkat dengan bentuk tubuh dan atap yang serupa, namun ujung atap Candi Gatotkaca sudah terlihat rusak. Pada ke tiga sisi dinding luar Candi Gatorkaca terdapat relung berhias kalamakara yang biasa digunakan sebagai tempat meletakkan arca.

Candi Dwarawati

Komplek Candi Dwarawati terdapat dari 4 candi yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Dari ke-4 candi tersebut, Candi Dwarawati merupakan satu-satunya candi yang masih berdiri utuh. Sedangkan pada ke-3 candi yang lain telah rusak dan tersisa batu-batu hasil reruntuhan.

Tidak seperti candi yang lain yang penamaannya diambil dari tokoh pewayangan Mahabarata, nama Candi Dwarawati berasal dari nama sebuah ibu kota kerajaan Dwarata di India.

Di atas busur setinggi 50 cm, Candi Dwarawati berdiri dengan alas dasar berbentuk bujur sangkar. Pintu masuk Candi Dwarawati menghadap ke arah barat dengan dilengkapi tangga tanpa hiasan.

Pada ketiga sisi dinding candi Dwarawati terdapat bilik penampil sebagai tempat meletakkan arca. Di dalam Candi Dwarawati hanya sebuah ruangan kosong, yang atapnya juga sudah tidak lagi terlihat utuh.

Lokasi komplek candi ini cukup sulit dijangkau, karena tersembunyi yaitu di tengah-tengah pemukiman warga di Desa Dieng Kulon yang dikelilingi oleh lahan pertanian kentang. Sehingga cukup jauh dari dari jalan raya.

Untuk memasuki komplek Candi Dwarawati, hingga saat ini pengunjung tidak dikenakan biaya apapun karena belum terdapat tiket khusus.

Candi Bima

Candi Bima merupakan candi terbesar di kawasan Dataran Tinggi Dieng berbentuk bujur sangkar yang betingkat tiga dengan ukuran 4,55 m x 4,55 m dan berketingian 8 m.

Di ujung selatan komplek percandian Dieng, Candi Bima berdiri megah di atas sebuah bukit. Lokasi persisnya dekat dengan obyek wisata Kawah Sikidang yaitu di samping pintu masuk.

Arsitekur Candi Bima terlihat sedikit berbeda dari candi-candi Dieng lainnya, karena Candi ini diperkirakan dibangun hampir bersamaan dengan Candi Borobudur, sehingga terlihat aksen desainnya yang merupakan perpaduan antara Agama Hindu dan Agama Budha dan menyerupai bangunan Candi di India.

Candi Bima telah mengalami beberapa kali pemugaran. Sekilas terlihat bentuk candi menyerupai segi delapan, dikarenakan penampilnya sedikit menjorok keluar. Puncak dari Candi Bima berbentuk Padmasana (bunga teratai/lotus) atau sebuah mangkuk yang ditangkupkan.

Bagian atap Candi Bima terdiri dari 5 tingkat, mengikuti lekuk tubuh yang semakin ke atas semakin mengecil, sehingga dari dalam langi-langitnya terlihat seperti piramida.

Atap candi juga terdapat relung dengan relief kepala dan setangah badan atau disebut arca Kudhu. Karena motifnya yang unik, kini arca tersebut disimpan di museum di Jakarta untuk mengantisipasi adanya pencurian seperti yang terjadi beberapa tahun silam.

Di dalam candi terdapat sebuah lubang berbentuk kotak yang digunakan sebagai tempat meletakkan sesajen. Pada bagian belakang candi terdapat ukiran berbentuk ular.

Keempat sisi Candi Bima memiliki lubang-lubang kecil yang diperkirakan digunakan sebagai pijakan para pembangun candi untuk mengusun bebatuan di atasnya.

Terdapat hal unik yang dapat ditemukan pada candi Bima, yaitu sebuah tembok berbentuk pagar yang mengelilingi bangunan candi. Hal ini yang disebut-sebut sebagai tanda bahwa area Candi Bima digunakan sebagai tempat melansungkan upacara adat Pradaksina.

Candi Bima terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Posisi persisnya yaitu ada di dekat gerbang masuk objek wisata Kawah Sikidang.

Wisata Telaga Warna

Wisata Telaga Warna
Telaga Warna Dieng

Telaga Warna merupakan objek wisata Jawa Tengah Secara administratif Telaga Warna terletak di Desa Dieng Wetan, kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Untuk menjangkau telaga ini cukup mudah menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Akses menuju Telaga Warna dapat ditempuh dari pusat kota Wonosobo dengan jarak 30 sekitar 30 meter dan membutuhkan waktu selama 45 menit hingga 1 jam. Cukup mudah apabila sudah berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng dan menemukan pertigaan, maka kita hanya perlu mengambil jalur kiri sekiar 500 meter untuk sampai di Telaga Warna.

Mau ke Dieng? Baca juga: Panduan liburan

Medannya yang dilewati cukup berkelok dan menanjak serta pada kanan kiri jalan berbatasan dengan jurang yang cukup dalam, sehingga wisatawan perlu berhati-hati apabila menggunakan kendaraan pribadi.

Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Telaga Warna adalah pada pagi atau siang hari, karena cahaya matahari yang terpantul akan memberikan efek warna di telaga tersebut.

Apabila berkunjung di sore hari, maka ada resiko terhalang kabut yang cukup tebal sehingga pengunjung tidak dapat menikmati fenomena perubahan warna dan pemandangan alam di sekitarnya.

Harga tiket masuk Telaga Warna di bawah sudah termasuk tiket Telanga Pengilon dan goa-goa alam di sekitarnya namum belum termasuk biaya parkir.

Wisatawan Domestik

Weekday (Senin – Jumat)Rp. 12.500
Weekend (Sabtu – Minggu)Rp. 15.000

Wisatawan Mancanegara

Weekday (Senin – Jumat)Rp. 100.000
Weekend (Sabtu – Minggu)Rp. 150.000

Dengan fenomena uniknya, Telaga Warna wajib diabadikan dalam jepretan kamera. Selain itu, terdapat pula beberapa view menarik untuk melihat Telaga Warna Dieng dari ketinggian sehingga akan terlihat warna warni Telaga Warna yang bersandingan dengan jernihnya Telaga Pengilon dengan latar bukit-bukit, rindang pepohonan, dan kabut tipis yang menyelimuti. Spot-spot strategis itu antara lain :

Batang Pohon Tumbang

Terdapat beberapa pohon-pohon tumbang yang tergeletak secara alami dan menjorok ke dalam tepian telaga.

Pohon tumbang ini menjadi setting paling fenomenal apabila kita mencari gambar Telaga Warna di linimasa.

Spot batang pohon tumbang wajib dicoba, dengan latar luasnya telaga dan nuansa pepohonan yang rindang maka pengujung akan mendapatkan hasil jepretan yang bagus.

Bukit Sidengkeng

Bukit Sidengkeng letaknya tidak jauh dari Telaga Warna yang menjadi salah satu spot strategis melihat eksotisnya pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon.

Dari puncak Sidengkeng, pengunjung akan disuhuhkan rerumputan hijau yang dapat dijadikan alas pijak dan duduk.

Mau ke Sidengkeng? Cek Persiapan ke Dieng

Pemandangan menakjubkan akan terukir perhalan-lahan mulai dari Gunung Sindoro yang nampak biru dari kejauhan, bukit-bukit dan pepohonan hijau, serta gradari warna Telaga Warna dan jernih Telaga Pengilon.

Batu Ratapan Angin

Batu Ratapan Angin

Biasa juga dikenal dengan Batu Pandang, spot ini merupakan dua buah batu yang bertumpuk di atas sebuah bukit di kompleks Telaga Warna. Letaknya berada di sisi sebelah timur Telaga Warna dengan ketinggian 2.100 mdpl.

Bagi para pecinta fotografi, spot ini wajib untuk dijajal karena bentang alam Dataran Tinggi Dieng yang mengelilingi Telaga Warna dan Telaga Pengilon akan terlihat jelas.

Selain latar tersebut, pengunjung juga dapat menemukan latar lain di sisi barat Batu Rapatan Angin, yaitu Kawah Sikidang yang mengelarkan asap.

Area Goa

Terdapat beberapa doa di sepanjang tepian Telaga Warna. Goa-goa alam ini dijadikan tempat bertapa/meditasi bagi beberapa orang yang masih percaya hingga kini.

Pada waktu-waktu tertentu, umat Hindu Bali berkunjung untuk melakukan ritual keagaaman. Beberapa goa yang ada di sekitar Telaga Warna yaitu Gua Semar, Sumur Eyang Kumulasari, Gua Pengantin, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto.

Goa yang paling terkenal adalag Goa Semar, karena memiliki kolam yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit dan bisa mempercantik.

Wisatawan dapat menjajal foto di area Goa tersebut, karena akses masuknya dibatasi maka kita hanya bisa menangkap gambar di depan goa.